Asal Seruan Pulang Kampung Yang Sudah Menjadi Tradisi Di Indonesia

menjadi tradisi masyarakat Indonesia tiap libur lebaran  Asal Usul Mudik Yang Sudah Menjadi Tradisi Di Indonesia
Google Doodle Mudik.*
MUDIK menjadi tradisi masyarakat Indonesia tiap libur lebaran (idul fitri). Secara bahasa, pulang kampung artinya berlayar atau pergi ke bodoh (hulu sungai, pedalaman) dan pulang ke kampung halaman (KBBI).

Ada juga yang mengartikan pulang kampung dengan “menuju udik” alias pulang ke kampung kelahiran.

Mudik menjadi bab dari tradisi umat Islam Indonesia di simpulan bulan Ramadhan. Jika kita tanyakan kepada ustadz, maka akan dijawab pulang kampung bukan merupakan bab dari ibadah Ramadan, tidak dusunahkan –apalagi diwajibkan, namun tidak ada juga larangan.

Dikutip dari laman Wikipedia, pulang kampung ialah aktivitas perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. 


Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan, terutama menjelang Lebaran. Pada ketika itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. 

Tradisi pulang kampung tidak hanya terjadi  di Indonesia, tapi juga Bangladesh. Di daerah lain, menyerupai Timur Tengah dan Eropa, tradisi pulang kampung tidak dikenal.

Mudik paling “bermasalah” terjadi di Pulau Jawa, terutama dari Jakarta ke luar Jakarta. Kemacetan kemudian lintas di jalanan kota-kota di seluruh Pulau Jawa menjadi pemandangan sehari-hari selama isu terkini mudik.

Etimologi: Asal Usul Mudik

menjadi tradisi masyarakat Indonesia tiap libur lebaran  Asal Usul Mudik Yang Sudah Menjadi Tradisi Di Indonesia
Kata pulang kampung berasal dari kata “udik” yang artinya selatan atau hulu. Pada ketika itu di Jakarta ada wilayah yang berjulukan Meruya Udik, Meruya Ilir, Sukabumi Udik, Sukabumi Ilir, dan sebagainya.

Pada ketika Jakarta masih berjulukan Batavia, suplai hasil bumi daerah kota Batavia diambil dari wilayah-wilayah di luar tembok kota di selatan. Karena itu, ada nama wilayah Jakarta yang terkait dengan tumbuhan, menyerupai Kebon Jeruk, Kebon Kopi, Kebon Nanas, Kemanggisan, Duren Kalibata, dan sebagainya. 

Para petani dan pedagang hasil bumi tersebut membawa dagangannya melalui sungai. Dari situlah muncul istilah milir-mudik,yang artinya sama dengan bolak-balik. Mudik atau menuju bodoh ketika pulang dari kota kembali ke ladangnya, begitu terus secara berulang kali.

Konon, pulang kampung telah ada semenjak zaman nenek moyang. Sejumlah literatur menyebutkan, tradisi pulang kampung sudah terjadi sejak munculnya kaum pengembara (urban) yang menyebar ke aneka macam tempat di luar kamung halamannya untuk mencari nafkah.


Pada bulan-bulan yang dianggap baik, mereka akan mengunjungi keluarga di daerah asal. Biasanya mereka pulang untuk melaksanakan ritual kepercayaan atau keagamaan. 


Pada masa kerajaan Majapahit, aktivitas pulang kampung menjadi tradisi yang dilakukan oleh keluarga kerajaan. Sejak masuknya Islam, pulang kampung dilakukan menjelang Lebaran.

Menurut budayawan Jakob Sumardjo, dalam sebuah goresan pena yang dipublikasikan blog hauzahmunggah dan pulang kampung menggejala di Pulau Jawa, yakni pada masyarakat Sunda dan Jawa. 

Tradisi pulang kampung dikenal baik di Jawa maupun di Sunda. Tetapi munggah, setahu saya, kurang dikenal luas di masyarakat Jawa. Dalam masyarakat Jawa sangat menggejala tradisi mudiknya.

Baik munggah maupun pulang kampung yang dilakukan sebelum bulan suci Puasa dan menjelang simpulan Puasa, bergotong-royong memiliki arti bahasa yang sama, yakni naik. Arti ini berkaitan dengan arah di zaman nenek moyang Indonesia. 

Pada zaman pramodern hanya dikenal komunikasi sosial lewat sungai. Hampir semua hunian bau tanah di Indonesia selalu berada di tepi sungai. Sungai merupakan jalan raya bagi nenek moyang kita. 

Pembikinan jalan gres dibutuhkan ketika forum kerajaan mulai dikenal masyarakat Indonesia. Karena sungai merupakan sarana komunikasi dan transportasi yang vital, maka dikenal adanya istilah arah hulu dan hilir, pulang kampung dan muara.

Pada waktu itu, bila orang menyampaikan mau mudik, terperinci artinya mau pergi ke hulu. Dan bila mau ke hilir, berarti mau ke arah muara. Orang yang menuju ke hulu sanggup berarti “naik”, “munggah”, “pulang”, “ke hutan”, “ke kebun”, “ke bukit”, “ke kampung”. Sedangkan orang yang menuju ke hilir sanggup berarti pergi, “keluar”, “ke pasar”, “merantau”, “kerja”. 

Dengan demikian arah hulu lebih bermakna “perempuan” dan hilir bermakna “lelaki”. Perempuan ialah hulu ialah rumah ialah kampung halaman. Lelaki ialah hilir ialah luar ialah asing, atau rantau.

Dengan rujukan pikir yang demikian itu, munggah dan pulang kampung maknanya sama, yakni kembali ke ibu, ke kampung halaman, ke nenek moyang, ke asal adanya, ya kembali ke fitrahnya. 

Tradisi munggah dan pulang kampung memiliki nilai arketipe bangsa. Begitulah kesadaran kolektif bangsa ini semenjak zaman dahulu kala, yakni tidak pernah melupakan jati dirinya, asal usulnya, nenek moyangnya, kampung halaman tempat ia dilahirkan. Manusia Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dalam hubungan munggah dan pulang kampung ini, selalu ingat asal usulnya, indungnya, sangkan paran atau asal dan tujuan hidup ini.

Demikian Asal Usul Mudik yang sekarang menjadi Tradisi Idulfitri di Indonesia.*